Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

‘Filsafat’ Wajib Bagi Setiap Manusia

Dalam salah satu jurnal filsafat (UGM ’94) disebutkan, permasalahan manusia saat ini adalah berawal dari kekacauan intelektualnya sendiri. Contoh di Barat, yaitu faham materialisme melampaui alam kodratnya sendiri. Atau bisa dibilang ambisi yang terlalu tinggi, dan lupa bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki batasan (batas makhluk atau hamba, masih ada yang menciptakan manusia, yaitu Allah yang Maha Agung). Seyyed Hossein Nasr, mengungkapkan, bahwa manusia di zaman modern akan lupa bahwa dirinya adalah manusia. Ternyata benar adanya. Ada beberapa poin, yang mencerminkan kekacauan intelektual adalah menuhankan sains modern, menolak sains islam (tradisi), dan menjadikan Al-Quran tidak ada apa-apanya, padahal Al-Quran adalah panduan mutlak di dunia untuk seluruh alam. Perlu kita ketahui sekilas. Sains Islam. Mungkin bisa dianalogikan tradisi keilahian, orang katolik pada saat itu. Manusia mengenal planet, dan salah satunya bumi. Di sini dijelaskan oleh Paul yang mengatakan...

Pertama, Baik (.)

Gambar
Kepergianku ke kampung halaman (Nganjuk) terasa berbeda dari yang sudah-sudah. Yang biasanya bareng keluarga dari asal yang sama, tidak lain adalah dari Jepara. Namun, kali ini dari kota-kota yang berbeda. Tujuannya satu, ingin bertemu, berkumpul, dengan keluarga besar di rumah simbah (Mbah Tri), dan sekaligus dalam momen haul simbah kakung. Aku berangkat dari Bandung, Ibu-Bapak-Adek berangkat dari Jepara, dan Mbak berangkat dari Surabaya. Cukup itu yang mejadi prolog. Mungkin aku akan menyampaikan beberapa rasa dalam kalimat. Barang dua sampai tiga paragraf ke bawah. Aku selalu mendapati kebaikan, entahlah. Itu menurutku. Setiap aku pergi dan bertemu orang baik dalam perjumpaan kali pertamaku dengannya (atau yang lain) di bus Pahala Kencana Bandung-Nganjuk Via Pantai Selatan Bukan Tol, 22 jam perjalanan. “Di Bandung kuliah?”, tanya Bapak kepadaku “Iya Bapak. Bapak mau pulang kampung? Alhamdulillah kita tujuannya sama”, aku menimpali “Tidak, Saya dari Jakarta ada urus...

Pesan WA (WhatsApp) dari Baba

Gambar
Aku mencoba menulis ulang apa yang disampaikan oleh Gus Umam (Baba, begitu panggilan dari santri-santri beliau). Beliau menyampaikan suatu kisah seorang Kiai dalam mendidik anaknya. Baba mengirim pesan (kisah) lewat WhatsApp grup alumni, hanya saja dalam Bahasa Jawa. Aku paham apa isi dari teks tersebut, karena aku Gadis Jawa, hehe. Mungkin ulasan berikut, bisa lebih dipahami secara umum dengan Bahasa Indonesia. Pesan yang tertulis adalah, kisah dari Kiai Haji Masduqi Mahfudz. Beliau dianugerahi Allah putra putri soleh solehah. Salah satunya, seorang putra yang bernama KH. A. Sampton Masduqi. Cerita Kiai Sampton dahulu, setelah lulus SMP dan memutuskan mondok. Kisah yang luar biasa, yang bisa diteladani Bapak-Ibu, atau calon Bapak-Ibu, anak yang masih nyantri, dan atau orang tua terhadap anak pada umumya dalam mendidik atau menyampaikan suatu pelajaran (nilai kehidupan). Ada beberapa kejadian yang menjadikan Kiai Sampton selalu bertanya. Kejadian seputar mondok, selama beli...