Cerita yang Masih Sama: Mudik Lebaran
Pergi ke Nganjuk
Selang satu bulan, aku dan Bapak-Ibu-Mbak-Adek pergi ke Nganjuk lagi. Pergiku sekeluarga sebelumnya adalah bertepatan dengan haul (peringatan wafatnya) kiyai dan akhirussanah (penutupan kegiatan tahunan) pondok Bapak juga Lek (adik Bapak) dulu. Tepat di bulan Sya'ban, kebanyakan juga waktu-waktu baik seorang anak mengunjungi orang tuanya atau nyekar di pusara orang tua yang sudah meninggal.
Alhamdulillah, Ibunya Ibu (Mbah Tri) masih sugeng (hidup). Usia beliau sudah 80-an lebih. Sya'ban dan Alhamdulillah Syawal ini, Ibu masih bertemu Mbah di rumah Bude-beliau yang dipilih Mbah untuk merawat di usia senjanya. Mbahe sekarang sudah sangat sepuh, beliau hanya berbaring di atas kasur. Semoga sehat, jauh dari balak (keburukan) dunia-akhirat. Aamiin.
Cerita Supir-Menyupiri
Sya'ban lalu, kami disupiri Lek Rup-adik Bapak. Sebab supir yang biasanya, sedang kerja (mrantau jauh), jadi pas Lek Rup mengutarakan niat ingin menghadiri haul, Ibu sigap merespon untuk mewujudkan niat itu bareng-alias berangkat bareng karena belum tau misal lebaran nanti dapat supir atau tidak.
Allah selalu mempunyai pengabulan-Nya sendiri.
Hal supir-menyupiri mudik kami sekeluarga termasuk Pengabulan versi-Nya. Mudik lebaran yang tidak disangka, tidak cukup bersyukur yang biasa saja. Sebab, tanpa supir orang lain, alhamdulillah Bapak mensupiri sendiri dan ada supir serep (pengganti) saat Bapak lelah, yaitu Mba Lathifa (Mba Papa).
Mba Lathifa, Anak Sulung Bapak-Ibu
Mba Lathifa Hamid adalah anak pertama Bapak dan Ibu. Dia kakakku dan kakak adikku. Jarak umurku dan dia terpaut 2 (dua) tahun. Sedangkan dia dan adikku terpaut 16 (enam belas) tahun. Kelahiranku dan kakakku sangat dekat, kelahiraku dengan adikku otomatis juga jauh jaraknya.
Waktu mudik dulu, aku dan Mba Lathifa (Mba Ifa) selalu runtung-runtung (berbarengan) yang dikira anak kembar, karena jarak umurnya dekat. Kebetulan juga wajah kita berdua ga jauh beda, lha satu sumber ko ya. Di waktu bareng-bareng itu, kami tau saat kami duduk dipangku-dipangkuan Bapak dan Ibu naik bus umum, karena masih kecil dan juga ongkosnya pas-pasan.
Perjalanan mudik ke rumah Ibu, juga tempat lahirku dan Mba Lathifa ini mengajarkan perjalanan atau proses tumbuh sebuah keluarga, keluargaku tepatnya. Adikku, Najma Habiibah juga menjadi bagian perjalanan mudik dan tumbuhnya keluarga ini, meskipun dia bukan anak kelahiran Nganjuk. Hihi.
Dulu, Aku dan Mbaku masih sama-sama kecil dan duduk di pangkuan Ibu atau Bapak, sekarang Mba Lathifa sudah duduk sendiri dan menyetiri (supir serep) kami. Mmm. Aku dan Adek yang duduk di belakang menjadi supporternya. Lagi, Dek Habiibah yang tidak merasakan duduk di pangku, kukira dia memiliki pelajaran tersendiri. "Mobil kesenenganku, HRV putih", ucapnya di atas mobil Tayuna (Red: Taruna) setiap melihat mobil kesukaanya lewat.
Entah jenis apa lagi pengabulan Allah, hanyalah rahasia-Nya. Belum tentu juga harapan sebuah masa depan dari ungkapan Dek Habiibah, karena ucapan sesaat. Namun pelajaran yang pasti dan selalu tersemogakan adalah rasa menyambung silaturahmi itu bisa terus terjaga, bahkan tanda sebuah perjuangan kami, Aku, Mbak Lathifa, dan tentu Dek Habiibah, atau member baru di keluarga kita nantinya. Hiyaa, Aamiin.
![]() |
| Mba Lathifa, Si Pemberani |

Komentar
Posting Komentar