Postingan

Remo(ne) Duta Damai

Gambar
     Aku masih usia belia jika dikatakan sebagai seorang mahasiswa kala itu. Ketika itu, Aku sedang menjalani masa-masa semester II. Usia yang masih nub (pemula) untuk Aku ikut sebuah organisasi atau kegiatan. Namun, semangat di awal itulah yang ternyata manis dikenang untuk sekarang ini. Aku merasakan nikmat dunia, begitulah Aku mendefinisikannya. Syukur, syukur, dan syukur yang tidak putus. Aku dipertemukan dengan orang-orang baik, hebat dan peduli. Itu yang mendasari perasaanku sampai saat ini sama terhadap orang-orang yang kutemui. Tidak melulu Aku sok bisa memberi, tapi yang pasti Aku mendapatkan dari mereka, ilmu dan pengalaman baru.        Aku bertemu sosok orang Jawa, lebih tua dari ku-- Mas Zidni, Aku memanggilnya. Dia yang mengajariku mengenal dunia luar lewat karya tulis. “Ikutlah Duta Damai, coba saja.” Dengan sigap aku merespon ungkapan itu. Dan selain itu, ada sosok yang mendorongku dari masa aliyah, ternyata dia ju...

Sadar Setengah Sengaja Bukan Salam Senyum Sapa '3S'

Gambar
Oh iya Aku diingatkan Kalau aku bukan siapa-siapanya Langsung, ke-tidaksadar-an diriku ter-sadar-kan dengan setengah sengaja Dia lebih suka orang lain Menetapkan pilihannya terhadap hati yang lain Astaghfirullah Terimakasih Alhamdulillah 9 Feb 2020 (dia telah mendekatinya, meskipun memalukan) Ini kesadaran baik . Oh Alhamdulillah Ternyata aku (bukan orang lain) Telah melakukan itu, mendekatinya sekalipun sangat memalukan Tapi aku tidak pernah menyesal Justeru dapat pelajaran Usahkah sakit hati? Tidak usah Ini dirimu, tak perlu risau akan hati orang lain Ingat niat baik Dasar cinta keras kepala, selalu saja ada alasan (hal) baik dalam pengakuan cinta itu Sudah, ini jauh lebih baik Allah lebih tau') Alhamdulillah Begitu mudahnya hati terbolak-balik. Ya!! Allah yang melakukannya. كن فيكون

Akhir Perjumpaan di ‘Kopi Djanoko’ (Sekuro, 12 Januari 2020)

Gambar
Tuan X, Stigma  Semmedi, aku tidak tau arti yang pas apa itu masa-masa aliyah—setara dengan SMA. Sebegitu indahnya, indah yang tidak sesaat pada masanya, tapi masih bisa dirasakan sampai saat ini. Kurang lebih hampir empat tahun setelah kelulusan—sekarang sudah kuliah yang sedang pada tahap akhir, skripsi kurang lebih begitu. Aku, di aliyah, mengambil jurusan Imersi, jurusan IPA-Bahasa Inggis. Jurusan yang digandrungi, konon jurusan favorit. Tapi emang iya sih, masuknya aja harus diseleksi—seleksi setelah masuk madrasah aliyah ditambah satu tahap tes masuk jurusan tersebut-- TPA plus listening (pastinya dengan Bahasa Inggris). Banyak banget kalau harus menceritakan kisah tiga tahun masa aliyah itu, spesialnya Semmedi. Hwaaaaa *** Sore, sekitar pukul 16.00 WIB (12/01/2020), aku sudah meluncur menuju rumah teman aliyahku-masih satu desa. Dengan bergegas mengambil helm , starter motor dibunyikan, dan mulai tancap gas perlahan sambil pamit pergi , “Assalamu’alaikum, Ku...

‘Filsafat’ Wajib Bagi Setiap Manusia

Dalam salah satu jurnal filsafat (UGM ’94) disebutkan, permasalahan manusia saat ini adalah berawal dari kekacauan intelektualnya sendiri. Contoh di Barat, yaitu faham materialisme melampaui alam kodratnya sendiri. Atau bisa dibilang ambisi yang terlalu tinggi, dan lupa bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki batasan (batas makhluk atau hamba, masih ada yang menciptakan manusia, yaitu Allah yang Maha Agung). Seyyed Hossein Nasr, mengungkapkan, bahwa manusia di zaman modern akan lupa bahwa dirinya adalah manusia. Ternyata benar adanya. Ada beberapa poin, yang mencerminkan kekacauan intelektual adalah menuhankan sains modern, menolak sains islam (tradisi), dan menjadikan Al-Quran tidak ada apa-apanya, padahal Al-Quran adalah panduan mutlak di dunia untuk seluruh alam. Perlu kita ketahui sekilas. Sains Islam. Mungkin bisa dianalogikan tradisi keilahian, orang katolik pada saat itu. Manusia mengenal planet, dan salah satunya bumi. Di sini dijelaskan oleh Paul yang mengatakan...

Pertama, Baik (.)

Gambar
Kepergianku ke kampung halaman (Nganjuk) terasa berbeda dari yang sudah-sudah. Yang biasanya bareng keluarga dari asal yang sama, tidak lain adalah dari Jepara. Namun, kali ini dari kota-kota yang berbeda. Tujuannya satu, ingin bertemu, berkumpul, dengan keluarga besar di rumah simbah (Mbah Tri), dan sekaligus dalam momen haul simbah kakung. Aku berangkat dari Bandung, Ibu-Bapak-Adek berangkat dari Jepara, dan Mbak berangkat dari Surabaya. Cukup itu yang mejadi prolog. Mungkin aku akan menyampaikan beberapa rasa dalam kalimat. Barang dua sampai tiga paragraf ke bawah. Aku selalu mendapati kebaikan, entahlah. Itu menurutku. Setiap aku pergi dan bertemu orang baik dalam perjumpaan kali pertamaku dengannya (atau yang lain) di bus Pahala Kencana Bandung-Nganjuk Via Pantai Selatan Bukan Tol, 22 jam perjalanan. “Di Bandung kuliah?”, tanya Bapak kepadaku “Iya Bapak. Bapak mau pulang kampung? Alhamdulillah kita tujuannya sama”, aku menimpali “Tidak, Saya dari Jakarta ada urus...