Mengenali Diri #7
Saya teringat buku kecil Cak Rusdi, yaitu catatan di rumah sakit (anak judul Seperti Roda Berputar). Satu kutipannya yang sudah saya sarikan, yaitu: 'Sesama pasien atau keluarga pasien itu saling bersahutan, bertanya keluhan, dan diakhiri saling mendoakan'.
Pagi hari ini (22/12) di RS Ortopedi provinsi, pukul 07.00 sudah ramai dengan pasien atau keluarga yang menemani anggotanya yang berstatus pasien. Pemandangan RS pagi itu juga lengkap oleh para dokter dan tenaga kesehatan yang hilir mudik dengan seragam identik berwarna biru muda sebagai àtasan serta biru tua sebagai bawahan. Hari ini juga sangat menandakan semangat di awal Minggu, sebab Si Senin
"Dari mana, ibu?", tanya ibu 'X'
"Dari Rembang", jawab ibu 'Y' yang sedang antri di depan pintu toilet
"Yang sakit siapa?", tanya ibu 'X' lagi
"Anak saya", jawab ibu 'Y' singkat
"Sudah operasi?", ibu 'X' masih lanjut bertanya
"Sudah, ini tahun ketiga berobat, ini sedang fisioterapi", penjelasan ibu 'Y' yang cukup panjang dari jawaban sebelumnya
Antrian kamar mandi yang di dalamnya adalah saya juga kamar satunya-sebelah saya, sekitar rentang 10 menit membuat percakapan itu terdengar jelas oleh telinga orang yang sedang buang hajat-air di dalam.
Saya baru kali pertama datang kesana sebagai pasien baru, membuat hati menciut tapi juga tersadarkan akan sebuah perjuangan. Saya seketika takut karena saya sadar punya sakit yang baru akan ditangani, namun di sisi lain saya juga yakin adanya kesembuhan, dan yang terpenting "Bagaimanapun, kita harus sehat dengan segala upaya, sebab orang-orang tersayang yang mengelilingi kita", tulis Cak Rusdi dalam Seperti Roda Berputar. Mereka berjuang lebih daripada pasien, mereka juga sakit, mereka menjaga kesehatan pasien dan menjaga kesehatan dirinya untuk selalu prima agar mampu mengurus ini itu juga menunggu-menemani proses pengobatan yang memakan waktu bulanan-tahunan itu. Ungkap Mbak Nik lewat gawai yang menyertai doa kesembuhan untuk saya seolah menjadi piweling (pengingat), "Yang sakit satu di keluarga, tapi yang ingin sembuh semua anggota keluarga."
"Semoga segera sehat anaknya, ya ibu", sambung ibu 'X'
"Aamiin, keluarga ibu juga ya. Siapa yang sakit?", Ibu 'Y' yang tadi menjawab bergantian menimpali pertanyaan serupa
"Anak saya", ibu 'X' menjawab sambil menenangkan anak di gendongan
Saya seperti seorang bisu di dalam kamar mandi, saya khidmad menyimak seutas percakapan yang tuntas tanpa interupsi. Kamar mandi di RS Ortopedi provinsi ini juga sudut-sudut ruangan di dalamnya menjelma sebagai harapan bagi mereka, yaitu SEMBUH. Saya sudah selesai buang air, membersihkan closet dan lantai, bergegas untuk keluar. Dua ibu yang bercakap-cakap di luar sudah tidak ada, rupanya di samping adalah anaknya yang sakit tapi sudah fisioterapi, satunya lagi menempati kamar mandi seberangnya, juga sudah selesai.
Potret lain yang sangat dekat sekaligus nyata di depan mata saya pagi itu adalah kaki yang dibalut perban, ada besi yang menempel di kulit entah seberapa manjur fungsi untuk menegakkan tulang yang gesrek atau bengkok, dan suara berdecit roda-roda dari bangsal atau kursi roda pasien yang tak berjeda sekaligus di atasnya--pasien yang terlentang dengan sinyal komunikasi dari kedipan mata atau pasien yang menyandarkan kruk di badannya sambil dipegang erat. Saya otomatis merekam jelas momen sekaligus ekspresi pilu itu. Jujur, saya ngilu, saya menahan rasa yang campur aduk--sedih bercampur kaget. Saya juga menjadikan ruang dalam hati saya seketika itu, ruang kecil dengan sudut yang paling kecil-tersembunyi menerjemahkan sakit menjadi doa-doa kesembuhan untuk diri saya.

Komentar
Posting Komentar