Mengenali Diri #2
Saat aku nderes (mengulang hafalan-membaca) Al-Qur'an, aku tidak sengaja membuka halaman depan. Bacaanku terhenti lantaran aku membaca Deskripsi Mushaf Khadijah. "Loh baru ngeh sekarang", responku seketika.
Disitu tertulis beberapa poin, di antaranya adalah tematik ayat yang menjelaskan tentang fiqih wanita dan dilengkapi dengan kisah Khadijah.ra. Petunjuk yang tidak sengaja kubaca ini membuatku di 'aha' situasi.
Aku langsung membuka lembaran mushaf yang bertanda merah blok, lalu aku membaca ayatnya lanjut artinya. Aku senang sekali saat membaca ayat-ayat tentang perempuan, relasi suami-istri, secara tidak langsung mengungkap tentang keluarga. Aku merasa dimudahkan.
'Aha' situasi ini mengingatkanku pada pendidikan terakhirku kemarin, Pendidikan Kader Ulama Perempuan. Hari-hari perkuliahan dipenuhi dengan mata kuliah yang berkaitan dengan isu perempuan, lebih khusus kesetaraan gender yang dibahas dari ayat-ayat Al-Qur'an. Ini menjadi seru karena selalu muncul perdebatan. Ah, cukup mengenangnya.
Berbicara tentang mengenang, 11 Ramadhan adalah hari wafatnya Khadijah.ra, istri Rasulullah. Saat hari ke 11 Ramadhan kemarin, aku kembali teringat dengan mushaf-ku, Mushaf Khadija. Aku bersyukur banget punya kesempatan menghafal Al-Qur'an, sehingga aku dipertemukan dengan Al-Qur'an itu. Ternyata nama dari Mushaf itu yang membuatku tambah seneng memiliki, semoga membuatku seneng nderes.
Khadijah.ra jika dikenang oleh semua perempuan, apalagi muslimah, tidak akan mencari-cari lagi sosok teladan perempuan. Khadijah.ra sebagai ummahatul mukminin, banyak memberikan contoh atau perilaku yang dapat diterapkan sampai hari ini. Ia adalah perempuan pertama yang mempercayai risalah Rasulullah yaitu Agama Islam, membela Islam dengan hartanya, sosok yang berani dalam bisnisnya, dan menjadi istri yang tulus menemani Rasulullah dalam berdakwah.
Teladan-teladan tersebut sudah berulang kali dituliskan atau disyiarkan. Namun sudah sejauh mana kita coba praktikkan dalam kehidupan sehari-hari? "Kita persiapkan sebagai seorang perempuan yang mandiri dan juga bersiap diri untuk membangun rumah tangga bersama pasangan yang tepat", inspirasi yang kudapat.
"Cara mempersiapkan sebuah pernikahan adalah membekali diri dengan ilmu", ucap Ning Amiroh Alauddin dalam ngaji posonan kitab Miftah Bab Nikah di live Instagram. Aku menangkap pesan dari Ning Amiroh: kita tidak perlu bablas dalam mengoar-ngoarkan kesetaraan gender, dalam arti kita memahami qodrat perempuan dan laki-laki.
Ning Amiroh melanjutkan, qodrat itu adalah sebuah sifat atau naluri. Jika perempuan adalah dilindungi, sementara laki-laki adalah melindungi. Beliau melanjutkan lagi, yang mengkhawatirkan para feminis radikal itu harapan laki-laki dan perempuan itu sama (peran) persis. Misal ada pertanyaan, "Kenapa tidak perempuan saja yang menafkahi laki-laki, kan perempuan sudah bekerja?", kemudian beliau sambil tertawa tipis dengan kembali mengatakan bahwa selamanya perempuan itu tidak memiliki kewajiban menafkahi, seperti kewajiban laki-laki.
Saat menginterpretasikan ini, aku tentu teringat lagi dengan pengajar, diskusi, tema-tema dalam perkuliahan yang kusebut sebelumnya. Ada yang terkesan radikal dalam mengungkapkan perempuan harus sama perannya dengan laki-laki. Namun, jika ini dijelaskan lebih lanjut dan dari berbagai perspektif, akan menemukan pandangan bahwa persamaan laki-laki dan perempuan itu dalam karakter yang setiap manusia memilikinya. "Laki-laki dan perempuan itu sama-sama memiliki sifat maskulin dan feminin." Porsi laki-laki lebih besar sifat maskulin dan perempuan lebih tampak sifat feminin, ini sebuah naluri atau fitrah. Namun keduanya akan sama tampak, baik dari laki-laki atau perempuan dalam situasi tertentu.
"Khadijah.ra itu adalah istri Rasulullah yang paling dicintai", Khadijah sebagai seorang perempuan yang kaya raya tapi tetap menghormati sisi maskulinitas Rasulullah. Khadijah.ra berposisi sebagai istri yang baik, selalu menyiapkan perbekalan Rasulullah sebelum khalwat. Khadijah.ra berposisi sebagai anak, ia manja kepada Rasulullah. Khadijah.ra berposisi sebagai ibu yang selalu menenangkan Rasulullah saat menerima wahyu.
Dari kisah rumah tangga Rasulullah dan Khadijah.ra, kita menangkap betul bagaimana peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Jika melihat relasi yang sangat harmonis, kita juga bisa menilik bagaimana Khadijah.ra sebelum menikah dengan Rasulullah. Masa-masa Rasulullah menunjukkan sikap jujur saat menjajakan barang dagangan Khadijah.ra. Lalu Khadijah.ra menjadi sosok yang disegani di masyarakat Quraisy, sebab sifat dan juga kedermawanannya. Sehingga kita bisa melihat potret pasangan yang telah disiapkan sebelum pernikahan.
**
Sebagai pribadi yang sedang mengenali diri sendiri dan perempuan yang ingin mempersiapkan pernikahan, aku mendapat pelajaran bahwa kesetaraan gender atau peran sosial antara perempuan dan laki-laki adalah sama. Sama-sama memiliki kesempatan untuk berdaya. Aku juga melihat itu di kisah Rasulullah dan Khadijah.ra, bahkan dari sebelum mereka bertemu.
Kesetaraan gender jika dibawa ke dalam rumah tangga, aku menilai sebuah sikap saling menghormati dan saling mengisi. Akan tetapi pernikahan adalah sebuah syariat yang di dalamnya ada hukum. "Sebelum menikah, laki-laki dan perempuan harus belajar tentang pernikahan, sebelum melaksanakan pernikahan itu sendiri. Sebab pernikahan adalah ibadah terpanjang, seumur hidup", pesan Ning Amiroh. Jadi hukum adalah sebuah landasan sebelum bermuamalah, salah satu hukum itu adalah tentang pernikahan.
Semoga kita semua berkesempatan belajar apapun, sebelum bertindak apapun itu.
Wallahu a'lam.
![]() |
| Halaman cover belakang dari kitab Al-Miftāh Libāb An-nikāh |

Komentar
Posting Komentar