Mengenali Diri #3

Usia 27 yang sedang kujalani ini membuat diriku lebih memberi waktu untuk diriku sendiri. "Apa yang aku lakukan kepada orang lain, sebetulnya untuk diriku sendiri", kurang lebih kalimat afirmasi yang kupakai waktu sekarang-sekarang ini. 

Komunikasi

Hari Ahad ini aku bingkai ke dalam hari libur atau family time. Sekitar pukul 8.00 aku sampaikan ke Adik dan Mbak "Hari Senin-Jumat nanti, aku mau maksimalkan waktu buat nulis-editing naskah ya, jadi ga pengen diricuhi", setelah berucap itu aku menguyel-uyel mereka berdua, berbagi kehebohan di weekend yang cute ini.

Di sini yang aku mau highlight adalah komunikasi, seperti meminta ijin untuk fokus pada "belajar". "Bukan seberapa lama waktu bersama keluarga, tapi seberapa efektif dan bermakna waktu bersama mereka", ingatanku pada ucapan Mama Fina lewat stori WA-nya saat meninggalkan putra-putranya ke US untuk studi Ph.D. 

Aku yakin dengan komunikasi dan saling mengerti-memberi ruang, bukan seolah fokus ke kerjaan, tapi berusaha memosisikan diri dengan durasi waktu yang "tek-tek, diperhitungkan", tentu penuh manfaat dan menyenangkan. 

Waktu

Perihal waktu, aku begitu menaruh perhatian. Efisien memanfaatkan waktu seperti contoh di atas atau tentang ketepatan waktu yang aku maksud berikut ini. Aku merasakannya dua tahunan terakhir. Salah satu sebabnya yaitu dipengaruhi kebiasaan-kesempatan di US yang serba tepat waktu. 

Di balik perhatian ini sebetulnya ada pengalaman keterlambatan masuk ke kelas yang semua mahasiswa HIU mengikuti kelas waktu itu. Kegagalan itu pelajaran hidup yang paling bermakna menurutku. Gagal yang diturunkan ke rasa malu karena terlambat, menyalahkan diri sendiri karena memilih salat dulu, dan menyesali "Kenapa langkah kaki tidak dipercepat." 

Rasa seperti ini tentu harus divalidasi dulu atau beri waktu untuk didiamkan. "Menginginkan pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif; menerima pengalaman negatif adalah pengalaman positif", kutipan dari sub judul Spiral Setan yang judul utamanya 'Jangan Berusaha' dari buku The Subtle Art of Not Giving A Fuck (Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat-Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik) karya Mark Manson. 

Merasa bersalah atas kesalahan terlambat ini double burden dari kesalahan terlambat itu sendiri loh. Mengingat-ingat kejadian buruk dan tanpa menerima, rasanya jadi pengalaman pahit banget. Ternyata, rasa menerima itu suatu pencapaian yang kadang di satu titik itu begitu sulit terealisasi. Begitu menerima alias gapapa, nyatanya bisa melahirkan sebuah perbaikan setelahnya, kadang pola ini otomatis. 

Setelah hari keterlambatan itu, aku melaksanakan salat setelah kelas atau di sela istirahat namun aku sudah wudhu dari dorm. Kurang lebih ini langkah praktis sebagai perbaikan keterlambatan karena aku memilih salat dulu waktu itu. Aku juga menata mindset, "Appointment bimbingan jam 2 siang adalah 1.30 dalam benakku", aku memutar cara yang menurutku it works.

Refleksi Diri

Aku bersyukur banget, aku mulai bisa mengira-ngira waktu dua menit, lima belas menit, tiga puluh menit. Aku bisa melakukan apa di waktu yang tersedia atau minimal memperkirakan keterlambatan hihi

Kalau versi Yoris Sebastian dalam bukunya Time is More Valuable Than Money (Dampak Transportasi pada Hidup Kita), meskipun di kota-kota besar seperti Jakarta yang super macet, bisa diatasi dengan datang lebih awal. "Datang 30 menit sebelum jam kerja, bisa untuk scroll Twitter, relaks, baca buku", tambahnya.

Misalkan aku terlambat dari waktu janjian, aku tetap ada pikiran "Ini pasti molor", tapi poinnya "Aku bisa berusaha lebih tepat waktu, mempercepat langkah, memperkirakan waktu berangkat." Sedemikian langkah untuk berubah, berubah dari langkah kecil dan dari dalam diri sendiri. 

Dalam perjalanan hidup yang sudah 27 tahun atau baru 27 tahun ini, menerima hal kecil dan memulai dari ruang kecil, adalah pencapaian dalam mengenali diri yang penting untuk diapresiasi. "Memiliki uang dan menejemen (pengeluaran) itu penting. Jika belum atau terlambat berpenghasilan, penerimaan atau komunikasi dengan diri (juga keluarga) jauh lebih penting", xixi. Aku mendapati pola rumus ini dari Dale Carnegie dalam bukunya Petunjuk Hidup Tenteram dan Bahagia. 

Siapapun orangnya, sebenarnya sudah melakukan banyak rumus dan mendapatkan hasil yang sesuai. Karena saking banyaknya, sangat mungkin terlewat begitu saja. Menyadari rumus dan hasil sekaligus cara menghitungnya itu semestinya adalah satu paket ya! 

My Current Reading


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita yang Masih Sama: Mudik Lebaran

Mengenali Diri #2

Mengenali Diri #1